Cerita ini berawal saat aku mulai kost di Jakarta timur. Awalnya aku kost di daerah Mampang Jakarta Selatan, lalu pindah ke Cibubur karena aku sudah tidak bekerja di kantor yang lama.Kost di Cibubur hanya bertahan selama tiga bulan karena saat itu aku tidak kunjung dapat pekerjaan yang baru, jadi kuputuskan kembali ke rumah di Tangerang selatan.Awal Desember aku mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan asing di kawasan Pulo gadung. Jadi aku kembali menjadi anak kost. Tapi ternyata mulai kerja efektif per awal Januari jadi selama Desember aku belum menempati kost-an.Tempat kost ku adalah kost campur dan ternyata mayoritas berisi para lelaki hahahahahAwalnya aku agak kurang nyaman karena selain penghuninya tidak ada perempuan, kamar mandinya pun diluar jadi agak gimana gitu yaa. Jadi sejak awal pindah aku memang sudah berniat pindah paling tidak aku bertahan selama tiga bulan.Dikost-an aku termasuk orang yg jarang sekali berbaur dengan yg lain, aku jarang duduk diruang tamu, jarang menaruh barang di kulkas jarang pula masak di dapur. Aku lebih senang gofood wkwkPokoknya aku keluar kost hanya untuk ke kamar mandi, pergi kerja, beli makan. Aku tidak berniat untuk berkenalan antar sesama penghuni. Aku merasa itu bukan hal yang terlalu penting, bagiku yang penting selama tinggal aku tidak mengusik mereka dan sopan, mereka pun sebaliknya.Keadaan berubah saat mendekati bulan ramadhan, ada salah satu penghuni kost sebut saya dia Iwan yang menanyakan apa bagaimana rencana sahurku nanti saat bulan puasa? Iwan bertanya apakah aku mau masak untuk semua penghuni kost?.Waah kebetulan, aku memang ada rencana ingin masak untuk sahur karena pasti sulit kalau harus beli, maka aku menyanggupi. Oh yaa total penghuni kost ada 7 orang, 5 orang lelaki 2 orang perempuan.Beberapa hari setelah Iwan menanyakan tentang rencana sahurku, ada satu orang lagi yang bertanya hal yang sama, sebut saja dia Baim. Baim mengungkapkan hal yang sama seperti Iwan, aku pun menjawab dengan jawaban yang sama.Semua berjalan seperti biasa, aku tetap saja tidak berbaur dengan yang lain. Kalimat yang sering kuucapkan kepada mereka hanya sebatas “permisi” sambil tersenyum yang tertutup oleh masker.H-1 ramadhan aku di invite ke dalam group, lalu kami berdiskusi tentang rencana untuk sahur pertama. Ada kesepakatan jadi yang belanja untuk keperluan sahur adalah para lelaki sedang aku dan Ija bertugas memasak.Ramadhan tiba, hari pertama sahur aku sudah bangun sejak pukul 02.00 tapi aku malu untuk keluar atau membangunkan yang lain hahaha (pemalu aku tuuuh)Akhirnya pintu pertama yang kuketok adalah pintu Ija, tetangga sebelahku. Lalu aku melihat isi kulkas dan memilih sayur yang akan kumasak. Aku meminta Ija untuk mengetuk pintu kamar yang lain.Hari kedua aku bangun di jam yang sama, masih dengan perasaan yang sama. Takut untuk keluar kamar hahahaSebenernya aku pun bingung apa yang kutakutkan, tapi aku merasa tidak nyaman saja saat harus mengetuk pintu penghuni lain. Walau sudah bangun aku tetap saja di kamar hingga pukul 03.00.Lalu ada orang yang mengetuk pintu kamarku, ternyata Baim. Lalu aku keluar kamar, kemudian kubangunkan Ija. Kami masak bersama, sahur bersama.Selama sahur pun aku tak banyak bicara, hanya menjawab jika ada yg bertanya. Pertanyaan-pertanyaan standar tentang asalku dan pekerjaan.Setiap malam orang yang selalu mengetuk pintu kamarku adalah Baim, dia jg yang selalu membantu aku memasak, seminggu pertama Baim yang rajin mengetuk, hari hari berikutnya lebih sering aku yang membangunkan Baim.Kami tak banyak interaksi hanya obrolan-obrolan biasa, tapi memang yang sering mencari topik pembicaraan baim, aku hanya menjawab sesekali bertanya balik.Walau aku dalam group kost dan tiap malam makan sahur bersama tapi tetap saja tidak mengubah aku menjadi orang yang lebih ramah wkwkKalimat yang sering kuucapkan tetap hanya sebatas “permisi”Lalu suatu hari, ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. “Mba Sri, makasih ya udah mau masakin buat kita, padahal mba Sri gak puasa.”Setelah kubaca pesannya, kulihat username whatsapp-nya ternyata Baim.Aku memang tetap bangun dan masak walau pun saat itu aku sedang berhalangan. Alasannya? Tidak ada alasan khusus, sepertinya hanya kebiasaan saja, aku memang terbiasa masak di rumah, jadi mau puasa atau pun tidak aku akan tetap terbangun saat jam sahur. Apalagi saat hari pertama aku berhalangan, aku tidak mendengar seorang pun bangun dari untuk menyiapkan sahur jadi yasudaah.Sejak saat sesekali Baim mengirimiku pesan, kadang berterima kasih (lagi) atau menanyakan ingin memasak apa.Tapi yaa aku tetap saja sama, tidak dekaat dengan penghuni lain.”Mba Sri kayanya aku mau pindah kost deh” chat dari BaimSaat pertama membacanya aku panik, karena selama ini hanya Baim yang selalu kubangunkan pertama kali untuk menemani aku masak.”Kenapa emang?” Balasku”Aku mau tinggal sama sepupu aku mba.””Yaah aku nanti masak sama siapa?”Tidak kusangka jawabanku membuat Baim bercerita alasan kenapa dia pindah, dia merasa tidak nyaman dengan penghuni yang lain, karena dia pernah dipaksa untuk ikut karaoke padahal dia sudah menolak. Yang lebih menyebalkan lagi Baim harus ikut membayar patungan karaoke walau dia tidak ikut bernyanyi hahahaAku juga bercerita kalau sebenarnya aku pun ada rencana pindah kost. Rasanya saat itulah pertama kali aku merespon chat Baim dengan kalimat yang lebih panjang dari biasanya.Tidak hanya di chat, saat masak pun obrolan kami jadi lebih panjang, saat aku pulang kerja pun Baim rajin menyapa.Sesekali Baim mengirim pesan memberitahukan bahwa dia ingin

Definisi Cowok Baik?

Disclaimer :

Pertama : Cerita ini akan banyak mengandung kata kasar yang membangongkan, karena kalau di tulis pakai kata halus jadi kurang seru.

Kedua : Aku terlalu sulit buat menentukan alur cerita serta karakter untuk cerita ini, maka aku putuskan memakai “gue” sebagai tokoh ceritanya.


***

“Si Dani itu cowok baik bukan sih?” tanya Vera.

“Ya gak tahu.” Jawab gue saat itu.

“Gak mungkin, lu kan deket sama dia.” desak Vera

“Emang definisi cowok baik buat lu gimana?” gue balik nanya ke Vera.

“Oh iya, gimana ya? soalnya sekarang banyak cowok baik yang ternyata fuckboy sih ya.”

“Nah itu tau”

***


Sialnya, hanya dari obrolan singkat dan absurd itu berhasil membuat memori gue memutar kembali kisah-kisah gue saat deket sama beberapa mahluk jantan bernama lelaki.


Dani

Anggap saja ini gambaran si Dani


Yap, dia adalah cowok yang ada dalam obrolan antara gue dan Vera, gue memang pernah deket sama Dani. Tapi kedekatan kita hanya sebatas “ya gitu” gak jelas arah hubungannya.

Kita engga pernah tahu dan mengungkapkan perasaan satu sama lain, tapi kita sering pergi bareng. Nonton, nongkrong, makan, ngobrol.

Pernah berencana ngetrip bareng tapi gagal karena gak nemuin waktu yg pas.

Dani itu sosok yg easy going, anaknya ceplas ceplos dan tipe cowok yg perhatian gitu. (Perhatian ke semua spesies sih tepatnya)

Kenapa gue bisa tahu dia baik ke semua cewek?

Ya karena gue pernah mendengar langsung dari cewek lain, tentang gimana Dani ngetreat cewek itu dengan sangaat baik dan penuh kasih sayang walau hanya berlabel “teman”. Gue sempet engga percaya sih, mungkin saat itu gue enggak bisa terima kali yaa kalau si Dani baik ke cewek lain juga, jadi gue konfirm lah ke Dani bener ga dia segitu baiknya.

INTI JAWABANYA IYA, WALAU DIA PUNYA BANYAK PEMBELAAN, CUMA YAUDAHLAH YAK. GUE CUKUP TAHU ENGGA BUTUH TEMPE.

KIta masih deket cuma intensitasnya berkurang, sampai suatu hari, gue update instagram story nonton bioskop. Lalu tiba-tiba Dani komen.

Dia nanya nonton sama siapa? Kenapa gak ngajak dia? Kok sekarang gue gak pernah nonton sama dia lagi.

“Lah emang lu siapa?” Balas gue saat itu, singkat padat dan malas

Sejak saat itu hubungan kita semakin berjarak, epicnya yang orang lain tahu gue yang nolak Dani

HAHAHA SUNGGUH MEMANG KAU BANGSAT DANI不



Adit

Ini mah namanya kecebong gaes


Kedekatan gue sama Adit 11 12 lah kaya waktu deket sama Dani. Tapi yang bikin beda adalah dengan bodohnya gue mengakui kalau gue suka sama Adit.

Perasaan Adit? entaah, gak jelas dia. Begonya gue masih mau deket sama cowok yang engga bisa jujur sama perasaannya. Gue juga gak ngerti kenapa saat itu gue mau bertahan, mungkin gue masih berharap kalau Adit mau sedikit jujur atau mau mengubah arah hatinya.

Masalahnya adalah gue tahu ada cewek lain, yang juga suka sama Adit. Gue was-was sih saat tahu hal itu. Karena cewek itu jauuh lebih cantik, pinter dan baik juga. apalah aku iniiiihh.

Adit pun tahu kalau cewek itu nunggu dia. Maka yg gue lakuin adalah gue tanya sebenernya hubungan Adit sama cewek itu gimana?

Sebenernya Adit janjiin apa ke cewek itu karena kok kayanya itu cewek setia banget, kan gak lucu kalau perasaan gue makin dalem eh tau-tau Adit nikah sama itu cewek.

“Gue gak ada komitmen apapun sama dia, juga gak pernah janjiin apa-apa sama dia. Lagian gue gak mungkin kok sama dia dan blablablabla” kata Adit mencoba kasih penjelasan ke gue.

OKE GUE PERCAYA

Lalu suatu hari gue stalking sosmed cewek itu, daaaan ternyataa itu cewek menulis tentang gimana Adit kasih surprise buat dia.

WOW, pas baca itu gue jg ikut terkejut berasa di kasih surprise juga sama Adit.

Gak cuma sampe di situ kejutan indah dari seorang Adit , suatu hari saat gue lagi main sama temen gue di salah satu mall. Gue ngeliat Adit lagi jalan bareng sama itu cewek.
Mereka lagi ketawa-tawa manjaa sambil gandengan tangan.

WOW, SUNGGUH KAU BABI SEKALI ADIT.

PUTRA

Sebenernya gue saat kenal Putra, gue sudah mulai lelah deket sama jantan alias cowok, cuma entah kenapa saat itu sosok Putra kaya yang menarik aja gitu di mata gue.

Anaknya agak frontal, tapi jujur dan apa adanya, diajak ngobrol pun asik (ini adalah koentji)

Saat itu, Putra terlalu intens ngechat gue, gue sadar kalau dua mahluk beda jenis kelamin terlalu sering berkomunikasi bakal bikin BAPER alias kebawa perasaan.

Apalagi putra flerting nya terlalu jelas, tapi ya gitu dia jujur aja anaknya. Gue pernah tanya berapa cewek yang lagi dia deketin kaya dia mencoba deketin gue.

Putra pun jujur dia emang chatting sama beberapa cewek, tapi katanya yang sampe bikin dia nyaman cuma gue. Dengan tololnya gue percaya doong. Duh gustiiiiiiii

Tapi dari situ gue juga mulai waspada, seenggaknya gue tahu kalau dia emang lagi nebar jaring. Tapi lama-lama kok ya gue nyaman juga. Akhirnya gue coba bilang ke Putra.

“Lu lagi nyoba bikin gue nyaman? Nanti kalau gue nyaman lu bakal ngilang ga? Gak usah bercanda sama perasaan”

Lalu Putra mengeluarkan banyak teori, intinya dia bilang gak mau main簡, bahkan dia ngajak gue serius apalagi kalau gue bisa terima kekurangan dia.

Awalnya gue agak gimana gitu terlalu basi sih, tapi akhirnya pertahanan gue runtuh. Gue terima niat dia yang “katanya mau serius”. Dari semua cowok yang pernah deket sama gue, cuma Putra yang statusnya paling jelas, yaitu PACAR.

Suatu hari kita jalan bareng, lalu dia minta tolong pegangin hapenya karena kondisinya lagi agak ribet saat itu.

Kemudian hapenya nyala, nongol pop up chat whatsapp. Otomatis gue bisa liat dong itu isi chat walau tanpa gue buka.

Kamu masih peduli sama aku?”

Pesan masuk dari cewek yg kontaknya di save pake emot hati.

Wah si brengseeeek, mata gue kaya yang langsung zoom in zoom out gitu. Sejujurnya saat itu panaass hati oweee bacanya. Tapi gue mencoba santai, gue mau selesaiin semua dengan cara yang baik. Maka gue tanya lah ke dia baik簡 walau aslinya pengen gue lempar gelas mukanya.

Intinya yaa dia takut kalau gue ninggalin dia maka dia mempersiapkan cadangan. Cuma dia bego makanya ketauan. Hiiiih dasaar kadal burik. Setelah itu ya jelas laaah gue memilih putus, walau setelah putus Putra sempet drama. Padahal dia yang salah tapi dia yang ngegas terus kan anyiing. Sekarang gue dan Putra sudah sama-sama tenang di alam kita masing-masing.

Gue masih di bumi, dia kembali ke habitatnya bersama para kadal, biawak dan buaya.


Baim

Ubu-ubur lucu siih tapi bikin sakit


Nah kalau ini smooth, paling tidak terduga dan cukup bikin pengen ngegaplok. Karena gue sama sekali gak ngerasa kalau Baim ada di deket gue tapi kok tau-tau hati gue terguncang hebat hahahaha kaaan bodooh namanya.不

Baim itu sopan banget anaknya, baik, perhatian tapi ya pada akhirnya gue menganggap dia bangsat sih wkwk

Serius dia baik banget bangeeet bangeet tapiii ternyataaa gaeesss dia itu punya pacar. Iyaa dia punya pacar, tapi masih bisa baik dan perhatian ke cewek lain juga. Apa gak gemesin tuuh?

“Aah itu mah lu aja yg baperan.” kata salah satu temen gue.

Yaa sekarang gini, kalau lu jadi gue bakal baper atau engga? Cobaaa yaaa

Kalau di luar sana banyak cowok yang cuma basa-basi nanyain makan tapi Baim tipe yg langsung beliin makan.

Kalau gue lagi susah dia orang yg bakal bantuin tanpa gue minta. Walau dia lagi capek aja dia dengan suka rela jemput gue padahal jelas簡 gue bisa pergi sendiri naik motor atau naik ojol.

Gimana gak terguncang coba hati guee saat tau ternyata dia punya pacar. BGST laah

Sampe saat ini dia masih baik sama gue walau gue mulai malees nanggepinnya. Dan epicnya dia gak tau kalau gue tau dia punya pacar不不不

Lebih tepatnya gue gak tau sih, mungkin dia pura-pura aja sama kaya gue yang pura-pura gak tahu kalau dia punya pacar karena gue udah males banget buka obrolan sama dia.

***

Jadi sekarang itu gue jadi bingung sebenarnya definisi baik itu gimana. Kalau denifisi baik itu yang engga ngerokok, mabok dan ngedrug yaa merekaa masuk kategori baik kok. Tapi kenapa rasanya ngehe banget haaha

Gue tahu engga semua cowok sama, gue percaya masih ada cowok baik di muka bumi ini walau pun gue gak tahu dia nyempil di belahan bumi mana.

Cowok-cowok diatas cuma gambaran beberapa orang aja, gak adil memang kalau di sama ratakan walau rasanya gue PENGEN MEMUKUL RATA SEMUA COWOK WKWKW #Bercandaaa

Sebenernya engga adil juga kalau misal cewek selalu dianggap baperan, yaa kalau emang engga mau di baperin sebagai cowok harusnya bisa jaga sikap dong. Kan baper juga engga yang ujug-ujug dateng sendiri pasti ada pematiknya maliiiih.

Sekian cerita dari gue.

Hari Minggu Ana

Setiap Minggu, Ana tak punya harapan apa pun di sudut kamar sempit itu. Melalui kaca jendela kotak-kotak, gadis kecil itu melihat teman-temannya asyik berlarian di tanah lapang seberang rumah.

Ada pula seorang teman sekelas ditemani sang ibu yang membawa semangkuk sup dan nasi. Sang ibu menyuapi anak itu. Ana melihat raut bahagia diwajah temannya, tapi itu malah membuat Ana sedih tanpa alasan.

“Ana, cepat mandi. Ibu udah kesiangan. Kamu mau ikut Ibu ga?” Teriak ibu sambil membuka pintu kamar Ana.

Lalu, Ana bergegas ke kamar mandi, bagi kebanyakan orang hari Minggu adalah hari keluarga, pada hari Minggu lah anak sekolah libur dari aktifitas belajarnya dan para orang dewasa libur dari rutinitas kerjanya. Tapi nampaknya hal itu tidak berlaku pada keluarga Ana.

Tidak memiliki hari libur bekerja karena ibunya seorang pembantu rumah tangga harian. Sedangkan ayahnya seorang buruh bangunan. Sebenernya setiap Minggu ayah Ana libur bekerja tapi sang Ayah harus bekerja di tempat lain dengan profesi yang berbeda, yaitu sebagai tukang kebun di rumah tempat ibunya bekerja.

Jadi satu-satunya yang berlibur pada hari Minggu di keluarga Ana hanya Ana seorang. Ana tidak suka sendirian di rumah, maka setiap hari Minggu atau saat libur sekolah, Ana ikut ibunya bekerja.

“Ana, cepetan dong mandinya. Udah jam 08.00 kan kamu tahu ibu harus kerja”

“Iyaa, ini Ana udah selesai kok. Tinggal pake baju”

“Nanti kalau udah pakai baju langsung sarapan yaa”

Ana melihat ibunya sedang sibuk merapikan dapur bekasnya memasak. Di meja makan pun sudah siap sarapan, meskipun menunya hanya nasi goreng kecap yang dicampur telur.

Di rumah, ibu adalah orang yang selalu bangun pertama kali, kadang ibu langsung mencuci baju, memasak dan membersihkan dapur. Ibu adalah orang yang resik dan rapi. Ia tidak suka rumah berantakan.

Kata Ibu, walau rumah kita hanya kontrakan petakan tapi kalau bersih pasti bikin nyaman. Sebenernya Ana tidak mengerti betul apa maksud ungkapan ibu.

Ana bukan anak satu-satunya, Ana memiliki kakak perempuan. Tapi kakak Ana sedang kuliah di Jakarta.

Bu, kenapa si ibu kerja terus, ayah juga. Mba Hana juga jauh. Aku kan mau main bareng-bareng” rengek Ana pada ibunya dimeja makan

“Ya kalau ibu gak kerja nanti bayar sekolah kamu dan uang kuliah Mba gimana?”

“Yauda deh aku gak usah sekolah aja, bantu ibu kerja aja biar aku bisa sama Ibu bapak tiap hari” Ana tetap merengek

“Gak bisa gitu, kamu harus tetep sekolah. Terus kuliah kaya Mbamu baru nanti kerja kalau sudah waktunya. Jangan sampai nasibmu kaya ibu dan bapak” jawab ibunya sambil membereskan meja makan.

Ana tidak mengerti nasib seperti apa yang Ibunya maksud, Ana merasa sudah cukup bahagia dengan hidupnya sekarang. Meskipun kadang ibunya suka marah-marah, tapi ibu tetaplah sosok yang baik di mata Ana.

Ana pun gak pernah malu punya ayah yang kerjanya tukang benerin genteng bocor rumah tetangga. Ana juga bahagia punya Mba Hana yang selalu membantunya mengerjakan PR kalau lagi dirumah.

Ana sering gak ngerti sama kata-kata ibunya. Ana sayang ibu tapi Ana juga sering kesal kalau sang ibu gak mau mengabulkan permintaan sederhana Ana.

Rumah tempat ibu Ana bekerja itu besarnya berlipat-lipat dari rumah yang Ana tinggali. Karena setiap Minggu Ana selalu ikut ibu kerja, maka ia sudah dikenal sama Ibu Rosi,bosnya ibu Ana.

Bu Rosi orang yang baik, kadang Ana dikasih mainan dan makanan enak yang belum pernah Ana makan sebelumnya. Dirumah bu Rosi Ana selalu memperhatikan Ibunya yang kesana-kemari mengerjakan ini dan itu.

Semua yang ibunya kerjakan sama persis seperti yang dikerjakan dirumah. Wajah ibunya terlihat lelah namun tak sedikit pun Ana mendengar ibunya mengeluh.

Jika bosan memperhatikan ibunya bekerja Ana pergi ke halaman. Ana melihat ayahnya menyiram tanaman dan mencabut rumput liar yang tumbuh di halaman itu. Terkena terik matahari langsung, tapi Ayahnya selalu tersenyum saat melihat Ana berdiri didekatnya.

Begitulah Ana selalu melewati hari Minggunya. Selalu bersama orang tuanya tapi bukan untuk bermain bersama atau berkumpul di taman hiburan melainkan menyaksikan orang tuanya bekerja banting tulang demi Ana bisa mendapat hidup yang lebih baik dari ayah dan ibunya. Kata itu yang selalu Ana dengar setiap kali Ana protes tentang hari Minggunya.

Bahas Nikah Jodoh Dan apalah itu.

DISCLAIMER : Seperti biasa isi tulisan aku akan mengandung banyak ketidakjelasan, jadi harap maklum haha.

Berawal dari aku yang sedang menunggu pesanan makanan di salah satu tempat makan, lalu aku mengunggah foto di instagram story dalam foto itu aku tuliskan “Lama kaya nunggu jodoh”

Tanpa di sangka-sangka ada notifikasi DM masuk, setelah aku buka ternyata dari Teh Irma (buat yang engga tau, Teh Irma itu soulhealer, kalian bisa cek sendiri lah kalau kepo).

“Live ig yuk, bahas tentang jodoh.” balas Teh Irma ke igs-ku

Tanpa banyak mikir, aku langsung mengiyakan dong, kapan lagi cuy. Orang lain kalau mau live sama teh irma harus lewat manager-nya dulu, lah ini aku diajakin langsung hihihihi. Tapi aku live-nya engga pakai ig pribadi, aku pakai second account aku wkwk. Biar lebih bebas.

Kita live sekitar jam 20.00, baru aja mulai, aku udah di todong dengan pertanyaan.

“Lu itu pengen nikah atau kabur Ser?”

Pertanyaan yang sebenernya simple tapi kalau kita mau jujur ini cukup nyakitin sih, mungkin engga semua orang paham dengan maksud pertanyaan ini. Jadi aku bakal cerita tentang pengalaman aku deh buat ngejelasin dikit.
Kabur dari kenyataan hidup dengan dalih menikah itu sebenernya banyak banget terjadi tapi sayang engga semua sadar sama hal ini.

Dulu aku sempet banget sih di fase pengen kabur dengan cara nikah, saat itu aku ngerasa capek aja kayanya jalanin hidup wkwk, terus mikir kayanya akan lebih enak nih kalau nikah. Punya kehidupan baru, memulai sesuatu yang baru, engga berkutat dengan masalah-masalah lama yang rasanya kaya engga ada ujungnya.

Punya suami, ada temen sparing (futsal kali ah) dan sharing, bayanginnya enak sih tapiii di sisi lain aku juga sadar, nikah engga sesimple itu. Ditambah (dulu) kalau bilang mau nikah ke bokap, aku selalu di ceramahin katanya masih kecil lah, blablabla, eh sekarang aja nyuruh mulu wkwk.

Balik lagi ke tentang nikah untuk kabur ya, jadi ekspetasi-ekspetasi tentang pernikahan itulah yang jadi pelarian, padahal kalau udah nikah mah hhmmmm ya gitu deh, masalah akan tetep ada, malah nambah sih karena hidup bareng orang baru juga kan?

Kenapa pada akhirnya suka ada aja orang yang menyesal nikah, menurutku karena ekspetasi tentang pernikahan terlalu tinggi, belum lagi niatnya juga. Pernah ada yang bilang sama aku gini.


“Jangan pernah berfikir menikah untuk bahagia, karena bahagia itu engga harus menikah. Tapi menikah ya karena kamu sudah siap menikah.”


Sampai sini pahamkan sama maksud aku tentang nikah untuk kabur?

Kenapa sih belum nikah?

Ya ampun ini pertanyaan primadona deh, buat orang yang umurnya udah diatas 23 tahun terutama cewek pasti akan sering ditanya gini, apalagi yang udah di atas 25 tahun, duuh sampe gumoh rasanya. Untuk jawab pertanyaan kaya gini aku itu mulai dari jawaban yang santai, bercanda, serius sampe kadang bikin kepala mendidih.

Aku heran kenapa banyak banget orang dimuka bumi ini yang rajin banget ngurusin urusan orang perkara nikah, emang kenapa coba. Kalau emang dia udah nikah yaudah, kan engga harus orang lain ikutan nikah juga.

Kalau harus jawab serius kenapa belum nikah, aku sebenernya agak bingung karena alasannya tuh klise banget. Aku merasa belum ketemu yang pas dan yang cocok buat di jadiin partner hidup sampai tua #ea.

Tapi kalau jawab begini pasti juga akan ada aja sih yang nyinyir, “Alah lu sih pemilih, selera lu terlalu tinggi dan blablabla.” Gubraaak cape deh.

Aku bahas tentang hal ini bareng teh Irma, engga salah kok kalau kita memilih tohh beli makanan aja dipilih dulu apalagi laki cyin. Yang engga boleh itu sombong/ blagu #duuhhhhhh


Misalnya ada yang suka sama kita, belum apa-apa kita udah gak mau dengan seribu alasan, padahal nyoba kenal aja belum. Nah begitu engga boleh, seenggaknya kenalan dulu, kan kenalan juga belum tentu cocok, seenggaknya ikhtiar. (aku tertampaarr gaes sama statement ini karena aku anaknya defense banget kalau tentang cowok)

Sebagai manusia kita itu harus ikhtiar, tapi hasil tetap Allah yang menentukan.

Menikah atau tidak menikah

Setiap orang itu punya jalan yang berbeda-beda, ada orang yang gampang banget ketemu jodohnya tapi engga berarti hidupnya mulus, lancar jaya, pasti ada aja ujiannya. Kita mah engga pernah tahu, toh kita kan cuma bisa liat sisi luar.

Dan buat yang belum menikah (yaelah kaya lagi ngaca) gak usah berkecil hati, menikah itu bukan syarat masuk surga kok hahaha. Apa pun status kamu saat ini tetap lakuin yang terbaik untuk hidup kamu.

Oh ya malem itu teh Irma bilang gini ke aku “Mungkin Allah emang belum kasih jodoh ke lu karena Allah mau lu berkembang dan belajar hal lain dulu, lu kan punya banyak potensi ya Ser cuma sama lu di sia-siain ajaa itu potensinya.”

Eh kook sakit yaa dengernya wkwk.
Daaah laaahh, udah panjang ceritanya hahaha