Hari Minggu Ana

Setiap Minggu, Ana tak punya harapan apa pun di sudut kamar sempit itu. Melalui kaca jendela kotak-kotak, gadis kecil itu melihat teman-temannya asyik berlarian di tanah lapang seberang rumah.

Ada pula seorang teman sekelas ditemani sang ibu yang membawa semangkuk sup dan nasi. Sang ibu menyuapi anak itu. Ana melihat raut bahagia diwajah temannya, tapi itu malah membuat Ana sedih tanpa alasan.

“Ana, cepat mandi. Ibu udah kesiangan. Kamu mau ikut Ibu ga?” Teriak ibu sambil membuka pintu kamar Ana.

Lalu, Ana bergegas ke kamar mandi, bagi kebanyakan orang hari Minggu adalah hari keluarga, pada hari Minggu lah anak sekolah libur dari aktifitas belajarnya dan para orang dewasa libur dari rutinitas kerjanya. Tapi nampaknya hal itu tidak berlaku pada keluarga Ana.

Tidak memiliki hari libur bekerja karena ibunya seorang pembantu rumah tangga harian. Sedangkan ayahnya seorang buruh bangunan. Sebenernya setiap Minggu ayah Ana libur bekerja tapi sang Ayah harus bekerja di tempat lain dengan profesi yang berbeda, yaitu sebagai tukang kebun di rumah tempat ibunya bekerja.

Jadi satu-satunya yang berlibur pada hari Minggu di keluarga Ana hanya Ana seorang. Ana tidak suka sendirian di rumah, maka setiap hari Minggu atau saat libur sekolah, Ana ikut ibunya bekerja.

“Ana, cepetan dong mandinya. Udah jam 08.00 kan kamu tahu ibu harus kerja”

“Iyaa, ini Ana udah selesai kok. Tinggal pake baju”

“Nanti kalau udah pakai baju langsung sarapan yaa”

Ana melihat ibunya sedang sibuk merapikan dapur bekasnya memasak. Di meja makan pun sudah siap sarapan, meskipun menunya hanya nasi goreng kecap yang dicampur telur.

Di rumah, ibu adalah orang yang selalu bangun pertama kali, kadang ibu langsung mencuci baju, memasak dan membersihkan dapur. Ibu adalah orang yang resik dan rapi. Ia tidak suka rumah berantakan.

Kata Ibu, walau rumah kita hanya kontrakan petakan tapi kalau bersih pasti bikin nyaman. Sebenernya Ana tidak mengerti betul apa maksud ungkapan ibu.

Ana bukan anak satu-satunya, Ana memiliki kakak perempuan. Tapi kakak Ana sedang kuliah di Jakarta.

Bu, kenapa si ibu kerja terus, ayah juga. Mba Hana juga jauh. Aku kan mau main bareng-bareng” rengek Ana pada ibunya dimeja makan

“Ya kalau ibu gak kerja nanti bayar sekolah kamu dan uang kuliah Mba gimana?”

“Yauda deh aku gak usah sekolah aja, bantu ibu kerja aja biar aku bisa sama Ibu bapak tiap hari” Ana tetap merengek

“Gak bisa gitu, kamu harus tetep sekolah. Terus kuliah kaya Mbamu baru nanti kerja kalau sudah waktunya. Jangan sampai nasibmu kaya ibu dan bapak” jawab ibunya sambil membereskan meja makan.

Ana tidak mengerti nasib seperti apa yang Ibunya maksud, Ana merasa sudah cukup bahagia dengan hidupnya sekarang. Meskipun kadang ibunya suka marah-marah, tapi ibu tetaplah sosok yang baik di mata Ana.

Ana pun gak pernah malu punya ayah yang kerjanya tukang benerin genteng bocor rumah tetangga. Ana juga bahagia punya Mba Hana yang selalu membantunya mengerjakan PR kalau lagi dirumah.

Ana sering gak ngerti sama kata-kata ibunya. Ana sayang ibu tapi Ana juga sering kesal kalau sang ibu gak mau mengabulkan permintaan sederhana Ana.

Rumah tempat ibu Ana bekerja itu besarnya berlipat-lipat dari rumah yang Ana tinggali. Karena setiap Minggu Ana selalu ikut ibu kerja, maka ia sudah dikenal sama Ibu Rosi,bosnya ibu Ana.

Bu Rosi orang yang baik, kadang Ana dikasih mainan dan makanan enak yang belum pernah Ana makan sebelumnya. Dirumah bu Rosi Ana selalu memperhatikan Ibunya yang kesana-kemari mengerjakan ini dan itu.

Semua yang ibunya kerjakan sama persis seperti yang dikerjakan dirumah. Wajah ibunya terlihat lelah namun tak sedikit pun Ana mendengar ibunya mengeluh.

Jika bosan memperhatikan ibunya bekerja Ana pergi ke halaman. Ana melihat ayahnya menyiram tanaman dan mencabut rumput liar yang tumbuh di halaman itu. Terkena terik matahari langsung, tapi Ayahnya selalu tersenyum saat melihat Ana berdiri didekatnya.

Begitulah Ana selalu melewati hari Minggunya. Selalu bersama orang tuanya tapi bukan untuk bermain bersama atau berkumpul di taman hiburan melainkan menyaksikan orang tuanya bekerja banting tulang demi Ana bisa mendapat hidup yang lebih baik dari ayah dan ibunya. Kata itu yang selalu Ana dengar setiap kali Ana protes tentang hari Minggunya.

Published by sriradi

gak terlalu suka nulis tapi suka ngepoin tulisan hahaha

41 thoughts on “Hari Minggu Ana

  1. Pas baca ini, jadi kebetulan inget salah satu artikel di media online yang nyaranin kalo ada bagusnya terkadang bawa anak ke tempat kerja biar jadi lebih menghargai kerja keras ortu.. hmm, apa maksud ortu Anna ngizinin Anna buat ikut nemenin ke tempat kerja juga ini? 😀
    Ditunggu kelanjutannya..
    Nice post!

    Like

  2. Yaa daripada di rumah sendirian dan tidak ada aktivitas, lebih baik diajak kerja sih. Setidaknya keluarga Ana bisa menghabiskan waktu bersama, meskipun dalam keadaan bekerja.
    Hari minggu memang dikenal sebagai hari libur. Tapi bagi sebagian orang, tidak ada salahnya tetap bekerja di hari minggu.

    Like

  3. Bagus kak tulisannya, jadi inget masa-masa kecilku sendiri. Waktu teman-teman sekolahku sehabis pulang sekolah bisa bermain bersama, aku harus bantuin orang tua jualan kue. Tapi justru sekarang masa-masa itu yang ngangenin, semua masih bisa ngumpul sekeluarga, bisa makan Indomie aja udah seneng banget.

    Like

  4. Lanjutin gehh ser…ternyata pas ana lagi main ada anak cowo yang seumuran dia ngajakin main….jadi ana ada temen mainnya..trs dia cerita ke ibunya…ibunya heran…lohh bukannya anak majikannya udah ninggal setahun yang lalu karena sakit…jadi horor dehh ibunya mau kerja lagi…endingnya si ibu dan bapak ana gak kerja lagi di situ karena takut…ana senang karena tipuan berhasil. Good job ana. Lalu ana pun tiap minggu bisa jalan jalan bareng ortunya. The end.

    Like

  5. Gaya bahasanya yang lugas tidak bermajas dengan Bahasa Indonesia baku, mengangkat kehidupan sehari-hari, mirip dengan karyanya Nh.Dini… Mudah dicerna dan nge-flow

    Like

  6. Sebuah potret kaum marjinal. Dan saat ini masih banyak Ana-Ana lainnya yang merasakan ketidakberuntungan, tapi tetap berusaha mensyukuri hidupnya.

    Like

  7. Kak bagus ceritanya, lanjutin kak terus jadiin novel. Terus endingnya Ana dan kakaknya sukses terus orangtuanya nggak perlu kerja keras lagi deh, ini kenapa jadi aku yang ngatur cerita sih haha

    Like

  8. Cerita keluarga Ana jadi ingetin aku kalo harus banyak bersyukur. Hehe. Yg namanya orang tua ya sesulit apapun pekerjaan dan waktu yg hrs dikorbankan demi masa depan anak tetap dilakuin

    Like

  9. Ana jgn sedih ya, nanti kalo sudh dewasa ana pasti ngerti kok kalo yang dilakuin ayah sama ibu ana adalah untuk masa depan ana

    Like

  10. Nice Story, Kak! Kereeen…
    Ana diajak Ayah Ibunya bekerja tapi belum diajari bantu ya…Mungkin karena masih kecil
    Mengenalkan anak ke pekerjaan orangtua akan menyadarkan mereka seperti apa mereka menafkahi kita. Syukur-syukur jika mengenalkan pekerjaan sekalian. Seperti tetanggaku (etnis Tionghoa), punya toko bahan bangunan di dekat komplek, kalau Minggu pegawainya libur, toko tetap buka, sejak kecil anak-anaknya yang bantu orangtuanya di toko

    Like

  11. Ana oh Ana..itulah kehidupan nyata yang sesungguhnya..mau tidak mau, suka tidak suka. Itulah realita. Itulah kenyataan.
    Bagus sekali tulisannya kak Ser, terasa nyata dan seperti real memang seperti itulah yang terjadi di kehidupan sehari-hari, di kehidupan sebagian orang.
    Ceritanya juga menarik karena menyorot isu sosial, lanjutkan kak!😊🌹

    Anni

    Like

  12. Ana termasuk beruntung, dia selalu melihat kesibukan ayah ibunya dihari Minggu. Banyak anak yang mengetahui bagaimana ayah dan ibunya bekerja, membuat mereka lebih matang dalam pemikiran dan juga lebih tahan banting dalam menghadapi dunia dan juga dalam meraih cita-citanya. Karena mereka secara langsung melihat apa yang dimaksud kegigihan bekerja.

    Like

  13. cerita ana ini tuh mirip2 sama cerita realita nya aku sendiri ya, ibu aku petani dan ga sekolah, bapak pedagang tamatan SR dan mereka mau anak2nya sekolah ke jenjang tinggi biar punya kehidupan dan status yang lebih baik, itu yang klo pas kita kecil mungkin belum nyampe yaa nalar pentingnya pendidikan

    Like

  14. Mbak, tulisanmu mengandung bawang. Beneran deh, apa aku terlalu mellow? Aku lagi baca ini terus kok yg keinget sosok alm bapak yg kerja keras buat bahagiain aku ya?

    Like

  15. Keputusan bagus sih orangtua Ana ngajakin dia kerja. Jadi tau kerja keras orangtuanya. Anak itu lebih gampang melihat pembelajaran yang langsung dipraktekkan orangtuanya ketimbang hanya nasehat semata. Pasti nanti Ana jadi anak yang tangguh. Bagus kak cerpennya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: